Skip ke Konten
wabulsawifestival
  • Beranda
  • Tentang Kami
  • Event
  • Katalog
  • Pendaftaran
  • +62 822-2022-5230
  • Sign in
  • Hubungi Kami
wabulsawifestival
      • Beranda
      • Tentang Kami
      • Event
      • Katalog
      • Pendaftaran
    • +62 822-2022-5230
    • Sign in
    • Hubungi Kami

    Rakat di Tengah Kabut Asap

    BERITASASTRA WSFEST 2026
  • Semua Blog
  • Berita
  • Rakat di Tengah Kabut Asap
  • 23 September 2026 oleh
    Wabul Sawi Festival
    | Belum ada komentar

    WABUL Sawi Festival (WSFest) 2026, sebuah event sastra tahunan di Banjarbaru, Kalimantan Selatan– dan kini memasuki tahun ke-3, akan digelar pada 23-26 September 2026. 

    Dari eflyer di instagram @wabulsawifest.official, terasa sekali nuansa yang muram dengan warna kuning kusam serupa udara berkabut asap yang tercipta dari kebakaran lahan dan hutan yang kini melanda Kalimantan. Hal ini sepertinya disengaja, karena WSFest sejak awal memberikan atensi terhadap permasalahan lingkungan.

    Tema yang diangkat pada WSFest 2026 yakni Rakat, yang diambil dari bahasa Banjar. Rakat memiliki makna kedekatan yang lekat, menempel, atau menyatu, mengenai hubungan antar manusia. 

    “Kata Rakat terasa menjadi kontekstual di dalam kondisi negeri yang kini banyak dilanda bencana, seperti kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan, kekeringan, erupsi Anak Gunung Krakatau, termasuk juga kelangkaan BBM serta lainnya, yang kemudian menghadapi kondisi itu melahirkan beragam kepedulian banyak pihak,” jelas Direktur WSFest Hudan Nur di Basecamp WSFest, Banjarbaru, Senin (21/9/2026).

    Lahirnya kepedulian itu, lanjut perempuan penyair ini, tak lain lantaran adanya perasaan “rakat”. Bukan hanya kedekatan secara geografis, melainkan secara emosi. “Sebab, derita korban adalah derita kita semua,” ucapnya.

    Dan kita tahu, kata Hudan, bencana datang bukan tanpa sebab. Ada kerakusan yang menghancurkan keseimbangan alam. Pada para angkara itu, kita katakan: hancur, kembali tumbuh, bertahan, dan melawanseperti tertulis pada subtema kegiatan festival ini, kata Hudan.

    Dengan dukungan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, WSFest 2026 memiliki mata acara yang cukup padat dengan sejumlah narasumber dari berbagai tempat di antaranya Saut Situmorang (Yogyakarta), Kusni Sulang (Palangka Raya), Zulkifli Songyanan (Tasikmalaya), Arsyad Indradi (Banjarbaru), Ariful Amir (Jakarta), Endry Sulistyo (Samarinda), Arif Kurniawan (Bengkulu), Musa Bastara (Banjar), Sandi Firly (Banjarbaru), dll.

    “Kita sangat ingin menghadirkan seluruh narasumber ke Banjarbaru. Namun mengingat kondisi saat ini Banjarbaru masih kurang kondusif akibat kabut asap dan hal lainnya, sehingga sebagian narsum tidak bisa didatangkan, dan sebagian acaranya digelar secara daring,” papar Hudan. 

    Sementara acara dibagi dalam bermacam Oru (Obrolan Seru) seperti Oru Menolak Padam, Oru Datang Terang, Oru Film, Oru Tata Kelola Festival, Oru Penulis Berdampak, dan Oru Ekobudaya. Kegiatan juga diisi dengan roadsow ke sejumlah sekolah dan pesantren di Banjarbaru. Puncaknya, yang diberi nama Malam Imaji, akan digelar di Mingguraya, Banjarbaru. 

    “Dari keseluruhan kegiatan itu akan melibatkan 1200 audiens. Kami berharap, WSFest akan memberikan dampak terhadap ekosistem sastra di Banjarbaru khususnya, Kalimantan dan Indonesia secara umum,” ucap perempuan berjilbab ini. 

    Ada 9 lokus kegiatan WSFest tahun ini, yaitu: SMPN 2 Banjarbaru, Ponpes Al Falah Puteri, SMK Telkom Banjarbaru, SMPN 9 Banjarbaru, SMAN 1 Banjarbaru, Museum Lambung Mangkurat Kalimantan Selatan, Taman Makam Bahagia, Mingguraya, dan Basecamp Inkubator Wabul Sawi Festival.

    Selain diskusi dan roadshow ke lima lokus sekolah, WSFest juga melaksanakan Edutown Selingkung Kota sebagai narahubung untuk memantik kepedulian warga untuk mengenal  Banjarbaru dari sudut histori agar irisan sejarah kota tak lekang hilang ditelan ingatan masa lalu. Edutown Selingkung Kota tahun ini memilih lokus Taman Makam Bahagia untuk mengenang para tokoh pendiri dan budayawan Kalimantan. 

    Peluncuran 2 Buku: Rakat dan Lapah

    Yang juga menarik dari WSFest 2026, yakni diluncurkannya dua buku sekaligus. Buku pertama merupakan kumpulan cerpen dari para peserta MTN Lab hasil dari residensi sejumlah penulis yang diselenggarakan WSFest pada Mei 2026 di Rantau Bakula, Kabupaten Banjar.

    Sedangkan buku kedua berjudul Lapah, yang merupakan kumpulan puisi peserta MTN Lab & Residensi yang diselenggarakan WSFest bersama Taman Budaya Provinsi Kalimantan Selatan pada Agustus 2026 lalu.

    “Jadi, festival yang akan diselenggarakan di September ini adalah merupakan puncaknya. Selain menghadirkan karya-karya dari hasil kegiatan sebelumnya, sekaligus peluncuran dan presentasi yang akan disampaikan oleh para penulis terpilih,” jelas Hudan.

    Beberapa kegiatan juga dapat diikuti secara gratis oleh umum, di antaranya diskusi yang diselenggarakan di basecamp Wabul Sawi di Jalan Guntung Jingah, Banjarbaru, dan pada acara Malam Imaji yang merupakan malam penutupan di Mingguraya pada Jumat (25/9/2026) malam.

    “Ayo datang, meriahkan, dan jadilah bagian dari perayaan sastra serta menunjukkan kepedulian kita terhadap kondisi saat ini yang tidak sedang baik-baik saja,” tandas Hudan Nur.

    Sumber : https://asyikasyik.com/wsfest-2026-rakat-di-tengah-kabut-asap/ 

      

    di dalam Berita
    Wabul Sawi Festival 23 September 2026
    Share post ini

    Bagikan

    Label
    Event kami
    • Obrolan Seru (Oru)
    • Antologi Karya Nusantara
    • Malam Imaji
    • Manyoto Tangah Hari
    • Edutown Selingkung Kota
    • Tabu
    • Poetry Slam Banjarbaru
    • Berita
    Arsip
    Masuk untuk meninggalkan komentar
    Bukan Sekadar Festival Sastra
    WSFest 2026 Jadikan Mingguraya Podium Suarakan Isu Lingkungan dan Budaya Banua
    Beranda Tentang kami Event Kebijakan Privasi
    Copyright © Wabul Sawi Festival 2026