
Upaya memperkuat kepedulian terhadap lingkungan dilakukan melalui pendekatan yang berbeda dalam Wabul Sawi Festival 2026. Sastra dimanfaatkan sebagai medium untuk mengangkat berbagai persoalan ekologis yang terjadi di Kalimantan Selatan sekaligus mengajak masyarakat melihat lebih dekat kondisi lingkungan di sekitarnya.
Gagasan tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam program Kita Indonesia: Palidangan RRI Pro1 Banjarmasin, Kamis, 10 September 2026. Dalam pelaksanaannya, Wabul Sawi tidak hanya menghadirkan kegiatan seni dan karya sastra, tetapi juga mempertemukan penulis dengan masyarakat yang berada di wilayah terdampak persoalan lingkungan melalui program residensi.
Founder Organisasi Wabul Sawi Kalimantan, Hudan Nur, menjelaskan bahwa pengalaman yang diperoleh penulis selama berada di tengah masyarakat kemudian menjadi bahan untuk menghasilkan karya sastra. Proses tersebut diharapkan membuat isu lingkungan tidak hanya dibicarakan sebagai persoalan umum, tetapi hadir melalui cerita dan pengalaman yang dekat dengan kehidupan masyarakat.
Nama Wabul Sawi sendiri memiliki makna yang mencerminkan semangat gerakan tersebut. Hudan menerangkan bahwa Wabul Sawi merupakan kependekan dari Wani Baidabul Sanggup Menggawi, yang menggambarkan keberanian untuk menyampaikan gagasan sekaligus kemauan untuk menjalankannya dalam bentuk tindakan nyata.
Perjalanan Wabul Sawi telah dimulai sejak 2024 dengan membawa perhatian pada isu lingkungan serta membuka ruang partisipasi bagi berbagai kelompok masyarakat. Memasuki 2026, kegiatan tersebut salah satunya diwujudkan melalui residensi penulis di Rantau Bakula. Dari proses itu kemudian lahir karya-karya cerpen yang mengangkat persoalan lingkungan.
Menurut Hudan, tantangan yang dihadapi bukan hanya persoalan ekologis itu sendiri, tetapi juga bagaimana isu tersebut mendapatkan perhatian yang lebih besar dalam ruang publik. Ia menilai persoalan lingkungan masih belum menjadi isu prioritas di Kalimantan Selatan. Karena itu, Wabul Sawi memilih sastra dan kegiatan berbasis masyarakat sebagai salah satu cara untuk memperluas pembicaraan mengenai persoalan tersebut.
Pandangan serupa disampaikan Penulis sekaligus Founder Wabul Sawi Kalimantan, Sandi Firly. Ia melihat karya sastra memiliki kemampuan untuk menyampaikan kritik sosial dan lingkungan dengan pendekatan yang lebih dekat kepada kehidupan sehari-hari masyarakat.
Sandi juga menekankan bahwa penyelesaian persoalan lingkungan tidak dapat dibebankan kepada satu kelompok saja. Pemerintah, masyarakat, dunia usaha, pemangku kepentingan, dan berbagai unsur lainnya perlu mengambil peran sesuai kapasitas masing-masing. Dalam konteks tersebut, sastrawan dapat berkontribusi dengan terus menghadirkan isu lingkungan melalui tulisan dan karya sastra.
Ia menilai suara mengenai persoalan lingkungan perlu terus dipertahankan agar masyarakat dan berbagai pihak yang memiliki kewenangan maupun kepentingan dapat melihat bahwa isu ekologis merupakan persoalan yang penting dan mendesak.
Dengan pendekatan tersebut, sastra diharapkan memiliki fungsi yang lebih luas daripada sekadar sarana berekspresi. Karya sastra dapat menjadi penghubung antara pengalaman masyarakat, persoalan lingkungan, dan kesadaran publik. Kolaborasi lintas pihak kemudian menjadi bagian penting agar pesan tentang pelestarian lingkungan tidak berhenti sebagai gagasan, tetapi dapat dilanjutkan melalui kepedulian dan tindakan konkret.