
Bukan Sekadar Pesta Sastra: WSFest 2026 Jadikan Mingguraya Podium Suarakan Isu Lingkungan dan Budaya Banua
Mengusung isu ekosastra, gerakan literasi muda, hingga puncak Malam Imaji di Mingguraya pada 23–26 September 2026.
BANJARBARU - Di tengah geliat ekosistem kreatif Kalimantan Selatan yang terus bergerak, Wabul Sawi Festival (WSFest) 2026 siap digelar selama empat hari penuh, mulai 23 hingga 26 September 2026. Mengusung keberlanjutan dan keberanian merawat ingatan, festival ini membawa semangat sastra keluar dari sekat formal menyapa pelajar di sekolah, mengudara di ruang digital, hingga meramaikan ruang publik Kota Banjarbaru.
WSFest 2026 hadir bukan sekadar perayaan tahunan, melainkan wadah konsolidasi gagasan antar generasi. Rangkaian acara dirancang menyentuh berbagai lapis masyarakat melalui roadshow sekolah, diskusi tematik (ORU Series), panggung ekspresi publik, hingga riset budaya.
Dari Sekolah hingga Ruang Virtual Rangkaian festival resmi dibuka pada Rabu (23/9) melalui aksi Roadshow di Al-Falah Putri dan kegiatan Edutown di Taman Makam Bahagia. Pada malam harinya, budayawan Kusni Sulang akan memandu diskusi virtual bertajuk ORU: Ekosastra, membicarakan keterkaitan erat antara narasi lingkungan dan karya sastra Banua.
Gerakan ini berlanjut pada Kamis (24/9) dengan menyasar generasi muda di SMAN 1 Banjarbaru melalui TABU #13: Rakat Bakula, yang menghadirkan presentasi karya dari para kreator muda seperti Arif Kurniawan, Endry Sulistyo, Royyan, dan Musa Bastara. Malam harinya, ruang dialog berlanjut menelusuri sinema dan ekobudaya bersama Ariful Amir.
Mengasah Kedalaman Gagasan Menjelang akhir pekan, Jumat (25/9), festival ini menggelar sesi Inkubator di Basecamp Wabul Sawi. Sastrawan Saut Situmorang dan penggerak budaya Zulkifli Songianan dijadwalkan hadir membedah topik vital: Penulis Berdampak (Kelahiran Kembali) serta Tata Kelola Festival. Diskusi ini dirancang untuk memberi pijakan kritis bagi para penulis dan pengelola karsa lokal agar ekosistem kreatif daerah terus bertumbuh secara mandiri.
Puncak Perayaan Malam Imaji di Mingguraya Puncak perayaan WSFest 2026 pada Jumat malam (25/9) mulai pukul 19.30 WITA di Panggung Bundar Mingguraya. Terbuka secara gratis untuk masyarakat umum, Malam Imaji menghadirkan:
- Peluncuran Karya MTN Lab Sastra & Poetry Slam: Ruang apresiasi karya-karya terbaru dari para penulis Banua.
- ORU "Menolak Padam": Panggung orasi dan refleksi budaya yang dipimpin oleh penyair senior Arsyad Indradi.
- Lapak Baca & Pertunjukan Seni Komunitas: Merayakan ruang publik sebagai tempat berkumpulnya ide dan kreativitas warga.
Rangkaian acara kemudian dirangkai hingga Sabtu (26/9) melalui agenda Susur Budaya di Museum Lambung Mangkurat Kalimantan Selatan.
WSFest 2026 adalah pembuktian bahwa api sastra di Banua tidak akan pernah padam oleh zaman. Kami mengajak seluruh masyarakat dan rekan media untuk tidak sekadar datang menonton, tapi menjadi bagian dari pergerakan ini dan merayakan keberanian berpikir bersama.