
Sisihkan 192 Penulis Nusantara! 10 Promising Writers Lahirkan Antologi Cerpen Penggugah Empati "Rakat"
Antologi fiksi hasil kerja sama Manajemen Talenta Nasional (MTN) Lab Bidang Sastra Kementerian Kebudayaan RI menghadirkan 20 karya cerita pendek dari 10 penulis menjanjikan se-Indonesia.
Banjarbaru - Menjawab dinamika sosial dan ancaman bencana ekologis di berbagai wilayah negeri, Wabul Sawi Kalimantan bersama Manajemen Talenta Nasional (MTN) Lab bidang Sastra dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia menerbitkan buku kumpulan cerita pendek bertajuk "Rakat: 10 Promising Writers". Karya antologi ini hadir sebagai wadah penegasan empati sekaligus bentuk daya gugah sastra dalam merespons persoalan kehidupan yang kian rumit.
Mengambil istilah khas masyarakat suku Banjar dan Dayak, kata rakat melambangkan simbol kedekatan yang lekat dan menyatu antarmanusia. Konsep ini hadir sangat kontekstual di tengah situasi Indonesia yang dilanda bencana alam di berbagai daerah seperti NTT, Papua, Aceh, Sumatra, hingga Kalimantan. Melalui ikatan emosional rakat, penderitaan korban bencana dirasakan sebagai duka bersama. Antologi ini menegaskan bahwa kerusakan alam bukan hadir tanpa sebab, melainkan akibat kerakusan serta eksploitasi masif, sehingga narasi dalam buku ini mengambil sikap tegas untuk bertahan, tumbuh, dan menyuarakan perlawanan.
Buku ini menghimpun karya dari 10 cerpenis berbakat yang berhasil terpilih dari 192 peserta dari seluruh wilayah Indonesia. Para promising writers tersebut adalah Rizky Riawan Nursatria, Rafii Syihab, Arif Kurniawan, Endry Sulistyo, Ginanjar Teguh Iman, Musa Bastara, Tiara Karina, Serli Ariska, Adjie Valeria Christiasih, dan Windy Joanna. Setiap cerpenis menyumbangkan dua buah karya, yaitu naskah saat seleksi awal serta karya yang lahir dari dinamika program residensi di Kalimantan Selatan pada 23–26 Mei 2026.
Penerbitan antologi ini mengakar kuat pada spirit Wabul Sawi akronim bahasa Banjar “Wani Baidabul, Sanggup Manggawi” yang berarti berani menyampaikan gagasan dan sanggup mewujudkannya dalam aksi nyata yang berdampak. Ungkapan historis ini pertama kali dicetuskan oleh tokoh pendiri Kota Banjarbaru, KH. Zafry Zamzam, pada Februari 1964. Nilai tersebut terus dihidupkan Wabul Sawi Kalimantan sebagai obor kebudayaan untuk merekatkan komunitas senapas sastra dan seni.
Melalui kehadiran buku Rakat: 10 Promising Writers, gagasan dan perspektif para penulis diharapkan mampu memantik kepekaan baru serta memperluas sudut pandang publik dalam memandang realitas sosial masa kini.